Syarat-syarat Baiat ke dalam Jemaat Islam Ahmadiyah
5/11/2009 08:03:00 AM
PENDIRI Suci Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Isa Almasih Yang Dijanjikan) a.s., pada tanggal 23 Maret 1889, telah menetapkan 10 Syarat Baiat atau Masuk dan mengikat janji/ikrar kesetiaan ke dalam Jemaat Islam Ahmadiyah yang isinya adalah sebagai berikut:
1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan salat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim selawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah saw. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa/kelemahan-manusiawi; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini "Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud" semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.[]
Diterjemahkan dari "ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH"
1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan salat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim selawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah saw. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa/kelemahan-manusiawi; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini "Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud" semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.[]
Diterjemahkan dari "ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH"
Doa [Pendiri Ahmadiyah] Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud a.s. Untuk Kehidupan dan Kemajuan Islam
5/05/2009 11:45:00 PM
ربّ أحـي الإسلام بجـهدي وهمّـتي ودعآئـي وكلامـي وأعـد بي
“RABBI aĥyi'l-islâma bijahdî wa himmatî wa du’âî wa kalâmî, wa a’idbî
سـحنته، وخـيره، وسبره، ومزّق كلّ معاند وكبره، . ربّ أرني كيـف
saĥnatahû wa khairahû wa sibrahû, wa mazziq kulla ma’ânida wa kibrahû. Rabbi arinî kaifa
تحـي المـوتٰى ، وأرني وجـوها ذوى الشّمـآئل الإيمـانيّة ونفـوسا
tuhyi'l-mautâ wa arinî wujûhaŋ-dzawi'sy-syamâ'ili'l-îmaniyyati wa nufûsaŋ-
ذوى الحـكمة اليمانـيّة وعـيونا باكية من خـوفك وقلوبا مقشعـرة
dzawi'l-ĥikmati'l-yamâniyyati wa ‘uyûnam-bâkiyatam-min-khaufika wa qulûbam-muqsya’iratan-
عـند ذكـرك .
‘inda dzikrik[a].”
« آئيـنه كـمالات إسـلام ﴿ دافـع الوسـاوس ﴾ » ، روحـانى خـزآئن جـلد ٥ ، صـ ٦ ، بـ ٨ .
“WAHAI TUHAN-ku, hidupkanlah Islam ini dengan perjuangan, gelora semangat, doa, dan kata-kataku. Kembalikanlah kemajuan, kebaikan, dan keindahannya. Luluhkanlah setiap penentang dan ketinggian hatinya. Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati rohaninya. Perlihatkanlah kepadaku orang-orang beriman yang memiliki kesopanan, orang-orang yang memiliki berkah kebijakan, orang-orang yang mudah mencucurkan air mata karena takut kepada-Mu, dan orang-orang yang berhati gemetar ketika ingat kepada-Mu.”[]
“Â'inah Kamâlât-i-Islâm (Dâfi’ul Wasâwis)” dalam Ruĥânî Khazâ'in Ĥadhrat Mirzâ Ghulâm Qâdiyânî Masîĥ Mau’ûd wa Mahdî Ma’hûd ‘alahi's-salâm Jilid V, Additional Nâzhir Isyâ’at London, Halaman 6, Baris 8.
Penerjemah: Drs. Abd. Rozaq—Kebayoran, 11 Desember 2006
Editor: Rahmat Ali—Kebayoran, 11 Desember 2006
“RABBI aĥyi'l-islâma bijahdî wa himmatî wa du’âî wa kalâmî, wa a’idbî
سـحنته، وخـيره، وسبره، ومزّق كلّ معاند وكبره، . ربّ أرني كيـف
saĥnatahû wa khairahû wa sibrahû, wa mazziq kulla ma’ânida wa kibrahû. Rabbi arinî kaifa
تحـي المـوتٰى ، وأرني وجـوها ذوى الشّمـآئل الإيمـانيّة ونفـوسا
tuhyi'l-mautâ wa arinî wujûhaŋ-dzawi'sy-syamâ'ili'l-îmaniyyati wa nufûsaŋ-
ذوى الحـكمة اليمانـيّة وعـيونا باكية من خـوفك وقلوبا مقشعـرة
dzawi'l-ĥikmati'l-yamâniyyati wa ‘uyûnam-bâkiyatam-min-khaufika wa qulûbam-muqsya’iratan-
عـند ذكـرك .
‘inda dzikrik[a].”
« آئيـنه كـمالات إسـلام ﴿ دافـع الوسـاوس ﴾ » ، روحـانى خـزآئن جـلد ٥ ، صـ ٦ ، بـ ٨ .
“WAHAI TUHAN-ku, hidupkanlah Islam ini dengan perjuangan, gelora semangat, doa, dan kata-kataku. Kembalikanlah kemajuan, kebaikan, dan keindahannya. Luluhkanlah setiap penentang dan ketinggian hatinya. Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati rohaninya. Perlihatkanlah kepadaku orang-orang beriman yang memiliki kesopanan, orang-orang yang memiliki berkah kebijakan, orang-orang yang mudah mencucurkan air mata karena takut kepada-Mu, dan orang-orang yang berhati gemetar ketika ingat kepada-Mu.”[]
“Â'inah Kamâlât-i-Islâm (Dâfi’ul Wasâwis)” dalam Ruĥânî Khazâ'in Ĥadhrat Mirzâ Ghulâm Qâdiyânî Masîĥ Mau’ûd wa Mahdî Ma’hûd ‘alahi's-salâm Jilid V, Additional Nâzhir Isyâ’at London, Halaman 6, Baris 8.
Penerjemah: Drs. Abd. Rozaq—Kebayoran, 11 Desember 2006
Editor: Rahmat Ali—Kebayoran, 11 Desember 2006
Iman Kepada Allah (Aqidah Ahmadiyah)
1/31/2009 06:04:00 AM
SEKARANG, saya hendak menjelaskan aqidah Ahmadiyah dengan mengambil keterangan dari beberapa tulisan Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Ahmad a.s. sendiri berkenaan Iman Kepada Allah.
Beliau telah bersabda:
“Kami beragama Islam, kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya Yang Maha Tunggal.” (Nûru`l-Ĥaq, Juz I, hal. 6).
Sabdanya lagi:
“Saya beraqidah dari lubuk hati yang dalam bahwa Allah itu adalah Yang menjadikan alam, Dia itu Esa, Maha Kuasa, Maha Mulia dan menguasai segala sesuatu yang nampak dan yang sembunyi.” (Â`înah Kamâlât-i-Islâm, hal. 384).
Sabdanya lagi:
“Allah itu Tunggal, Kekal berdiri sendiri tidak beranak dan tidak bersekutu.” (Anjâm-i-Atham, hal. 267).
Sabdanya lagi:
“Kepada Allah saja saya menuju; pada tiap-tiap waktu pena saya bergerak.”[]
Lihat:
Maulana Muhammad Shadiq bin Barkatullah Al-Mubasysyir Al-Islamiy Al-Ahmadiy. Penerangan Ahmadiyah. "Pasal Pertama: Berkenaan Dengan Allah". Selangor (1955): Jemaat Ahmadiyah Malaysia.
Beliau telah bersabda:
Sabdanya lagi:
Sabdanya lagi:
Beliau bersabda lagi:
“Dengan kemuliaan Allah saya bersumpah bahwa saya mengutamakan keridhaan-Nya melebihi segala perkara dan pintu-Nya melebihi segala pintu lain; dan kesukaan-Nya melebihi kesukaan orang lain dan bahwa Dia beserta dengan saya setiap waktu dan saya pun mengikuti-Nya dalam segala hal; dan saya telah mengutamakan kegiatan agama dan dialah yang mencukupi saya; walaupun saya tidak mempunyai hartabenda dunia apa apa; aku mendapatkan kenikmatan meski takada apaapa di tangan; cinta kepada Tuhan tertanam di hati saya dan saya mendapatkan pangkat ruhani yang tidak dapat dikenal oleh manusia mana saja di masa sekarang.” (Tuĥfatu Baghdâd, hal. 19).
Sabdanya lagi:
Lihat:
Maulana Muhammad Shadiq bin Barkatullah Al-Mubasysyir Al-Islamiy Al-Ahmadiy. Penerangan Ahmadiyah. "Pasal Pertama: Berkenaan Dengan Allah". Selangor (1955): Jemaat Ahmadiyah Malaysia.
-------oooOooo-------
Islam dan Iman (Aqidah Ahmadiyah)
1/31/2009 05:04:00 AMDENGAN karunia Allah swt., para Ahmadi atau pemeluk Islam Ahmadiyah adalah orang-orang yang beragama Islam, kami mempunyai keyakinan bahwa agama Islam itulah satu agama yang sempurna yang tidak akan dimansukhkan lagi sampai hari Qiamat. Siapa saja yang tidak mengikuti Islam, maka kepercayaannya tidak benar dan agamanya yang lain itu tidak akan dikabulkan.
Allah swt. berfirman:
Alquran Majid adalah firman Allah yang suci dan Sayyidina Muhammad saw. adalah berpangkat Khâtaman-Nabiyyîn. Tidak ada kitab (syari’at) baru lagi atau Nabi yang membawa agama baru sesudah beliau itu.
Rukun Islam kami ada lima perkara:
1. Mengucapkan dua Kalimah Syahadat, yaitu:
2. Mendirikan Shalat lima waktu dalam sehari-semalam.
3. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
4. Membayar Zakat kalau sudah cukup nishab.
5. Naik haji ke Mekkah Al-Mukarramah kalau mampu.
Demikian juga Rukun Iman kami ada enam perkara:
1. Percaya kepada Allah.
2. Percaya kepada para Malaikat-Nya.
3. Percaya kepada Kitab-kitab-Nya.
4. Percaya kepada Rasul-rasul-Nya.
5. Percaya kepada Hari Qiamat.
6. Percaya kepada Taqdir Allah.
Inilah kepercayaan kami secara ringkas.[]
Lihat:
Maulana Muhammad Shadiq bin Barkatullah Al-Mubasysyir Al-Islamiy Al-Ahmadiy. Penerangan Ahmadiyah. "Pasal Pertama: Aqidah Ahmadiyah". Selangor (1955): Jemaat Ahmadiyah Malaysia.
-------oooOooo-------
LIMA Rukun sebagai Dasar Agama Islam adalah Bagian dari Keimanan kita
12/16/2008 03:57:00 PMHadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis:
Rangkuman dan inti pokok agama kita adalah keimanan kepada:
Keimanan yang kita anut dalam hidup di dunia dan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan yang akan dibawa kepada kehidupan di akhirat, adalah bahwa Penghulu dan Junjungan kita, Muhammad-yang-terpilih saw. adalah Khâtama`n-Nabiyyîn dan yang-terbaik-dari-semua-rasul. Di tangan beliaulah, agama ini menjadi sempurna. Dan berkat karunia yang diperoleh melalui penapakan jalan yang lurus, maka seorang manusia akan bisa mendekat kepada Allah swt..
Kita meyakini sepenuh hati bahwa Alquran adalah kitab samawi terakhir dan bahwa tidak ada satu kata atau noktah pun bisa ditambahkan atau dikurangi daripadanya. Tidak ada wahyu yang akan diturunkan Allah swt. yang merubah atau memansukhkan firman-firman dalam Alquran atau pun mengganti apa pun petunjuk yang tersirat di dalamnya. Siapa pun yang mempunyai pandangan berbeda mengenai hal ini, menurut hemat kita, bukanlah seorang yang beriman dan merupakan seorang kafir (menolak/menutup diri) dan bidah.
Kita pun meyakini bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus pada tingkatannya yang paling sederhana pun, tidak akan bisa diperoleh tanpa mengikuti Rasulullah saw.. Apalagi, untuk mengatakan “mengikuti jalan yang lurus pada tingkatannya yang luhur.” Kita tidak akan bisa mencapai tingkat kemuliaan dan kesempurnaan dalam bentuk apa pun atau pun kedekatan kepada Allah swt. kecuali dengan menjadi pengikut yang benar dan sempurna dari Rasulullah saw.. Apa pun yang dikaruniakan kepada kita adalah sebagai cerminan dan berkat dari Yang Mulia Rasulullah saw..[]
--Izâlah Auhâm, Amritsar: Riyâz Hind Press (1308 H); Rûĥânî Khazâ`in Volume III, London: Additional Nâzhir Isyâ’at 1984, halaman 169-170)
Rangkuman dan inti pokok agama kita adalah keimanan kepada:
Keimanan yang kita anut dalam hidup di dunia dan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan yang akan dibawa kepada kehidupan di akhirat, adalah bahwa Penghulu dan Junjungan kita, Muhammad-yang-terpilih saw. adalah Khâtama`n-Nabiyyîn dan yang-terbaik-dari-semua-rasul. Di tangan beliaulah, agama ini menjadi sempurna. Dan berkat karunia yang diperoleh melalui penapakan jalan yang lurus, maka seorang manusia akan bisa mendekat kepada Allah swt..
Kita meyakini sepenuh hati bahwa Alquran adalah kitab samawi terakhir dan bahwa tidak ada satu kata atau noktah pun bisa ditambahkan atau dikurangi daripadanya. Tidak ada wahyu yang akan diturunkan Allah swt. yang merubah atau memansukhkan firman-firman dalam Alquran atau pun mengganti apa pun petunjuk yang tersirat di dalamnya. Siapa pun yang mempunyai pandangan berbeda mengenai hal ini, menurut hemat kita, bukanlah seorang yang beriman dan merupakan seorang kafir (menolak/menutup diri) dan bidah.
Kita pun meyakini bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus pada tingkatannya yang paling sederhana pun, tidak akan bisa diperoleh tanpa mengikuti Rasulullah saw.. Apalagi, untuk mengatakan “mengikuti jalan yang lurus pada tingkatannya yang luhur.” Kita tidak akan bisa mencapai tingkat kemuliaan dan kesempurnaan dalam bentuk apa pun atau pun kedekatan kepada Allah swt. kecuali dengan menjadi pengikut yang benar dan sempurna dari Rasulullah saw.. Apa pun yang dikaruniakan kepada kita adalah sebagai cerminan dan berkat dari Yang Mulia Rasulullah saw..[]
--Izâlah Auhâm, Amritsar: Riyâz Hind Press (1308 H); Rûĥânî Khazâ`in Volume III, London: Additional Nâzhir Isyâ’at 1984, halaman 169-170)
Agama tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama
11/26/2008 10:43:00 AM
Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis:AGAMA tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang memperhatikan penekanan hawa nafsu batin atau penciptaan silaturahmi dengan yang Maha Terkasih.
Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di antara hewan anjing dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu.
Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta menguar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan.
Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan yang Maha Hidup? Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan membuta.
Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dan tidak memiliki rasa asih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak.
(Baraahain-i-Ahmadiyyah Jilid V; Ruuhaanii Khazaa`in Jilid XXI, halaman 28, Additional Naazhir Isyaa'at London, 1984; penerjemah: Alm. H. Abdul Qayum Khalid)
Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di antara hewan anjing dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu.
Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta menguar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan.
Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan yang Maha Hidup? Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan membuta.
Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dan tidak memiliki rasa asih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak.
(Baraahain-i-Ahmadiyyah Jilid V; Ruuhaanii Khazaa`in Jilid XXI, halaman 28, Additional Naazhir Isyaa'at London, 1984; penerjemah: Alm. H. Abdul Qayum Khalid)
